Rabu, 20 Februari 2013

Kebutuhan Daging Sapi

Kebutuhan masyarakat pada bahan makanan yang bergizi semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi untuk kesehatan tubuh. Salah satu sumber pemenuhan gizi adalah daging sapi. Hal ini tampak jelas dari pertambahan jumlah sapi yang dipotong maupun daging sapi yang dikonsumsi secara nasional beberapa tahun terakhir, sementara pada sisi lain pertumbuhan populasi sapi secara nasional tidak mampu mengimbangi pertambahan jumlah pemotongan. Konsumsi daging sapi yaitu sekitar 1,2 juta ekor setiap tahun (Risaputri, 2002) atau meningkat 10,85% per tahun padahal kemampuan peningkatan produksi sapi hanya sekitar 4-5% per tahun (Parakkasi, 1995). Oleh karena itu seiring dengan peningkatan kebutuhan daging sapi tersebut, usaha penggemukan sapi potong (feedlot) semakin berkembang di Indonesia. Berhasil tidaknya suatu usaha feedlot sangat tergantung pada faktor-faktor seperti bakalan, tata laksana, dan pakan. Ketiga faktor tersebut harus diperhatikan untuk mendapatkan efisiensi biaya pakan, pertambahan berat badan atau ADG (average daily gain) yang optimal, dan kualitas karkas yang baik, sehingga akhirnya bisa didapatkan keuntungan yang maksimal dari usaha tersebut (Basuki et al., 1998).

Produktivitas ternak ruminansia di Indonesia, sapi khususnya adalah masih relatif rendah. Faktor penyebabnya adalah sistem pemeliharaan secara tradisional (sistem kereman) yang menggunakan ternak muda (umur 1-2 tahun) dalam kondisi tubuh kurus, kemudian digemukkan selama berbulan-bulan dan diberi pakan seadanya hanya berupa hijauan dan sisa tanaman pertanian yang diambil dari sawah/ladang/kebun di sekitarnya. Faktor pakan sangat berpengaruh dalam penggemukan sapi, karena sebanyak 60-80% total biaya produksi digunakan untuk biaya pakan (Siregar, 1994). Ketersediaan pakan, kualitas dan kuantitas pakan, manajemen pemberian pakan, dan seleksi pakan oleh ternak juga harus diperhitungkan dengan memperhatikan kebutuhan dan kecukupan nutrisi bagi ternak yang bersangkutan. Manajemen pemberian pakan yang kurang baik seperti pemberian pakan konsentrat dengan cara "dikombor" (mencampur pakan dengan air) juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi rendahnya produktivitas ternak sapi, karena sapi akan cepat merasa kenyang, padahal kebutuhan nutrisi ternak tersebut belum tercukupi. Nutrisi lengkap pada pakan dibutuhkan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi. Nutrien tersebut terdapat dalam berbagai jenis bahan pakan yang dapat diformulasikan dalam ransum yang serasi dan seimbang sehingga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak agar ternak dapat memperlihatkan kemampuan produksi yang optimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar